Rahmi Kurnia, Layak Jadi Teladan Karena Kesuksesannya Sebagai Atlet dan Pengurus

Jun, 18 2019
Profil

Sebagai atlet nasional taekwondo putri barangkali prestasinya belum ada yang bisa menandingi. Ia pernah meraih medali perak Olimpiade Barcelona tahun 1992 lalu. Komitmennya sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) pada kepengurusan PBTI periode 2014 – 2019 yang dipimpin oleh Letjen TNI (Purn) Marciano Norman juga terbukti telah teruji dengan melahirkan juara-juara baru taekwondo Indonesia di berbagai event internasional. Bahkan di era ketika dirinya menjabat sebagai Kabid Binpres itulah Taekwondo Indonesia mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya meraih emas di ajang pesta olahraga terbesar Asia, Asian Games di Jakarta – Palembang 2018 lalu.

 

Ia sukses baik sebagai atlet maupun sebagai pengurus dan layak menjadi teladan bagi para praktisi taekwondo Indonesia dan layak dicatat dlm tintas emas sebagai praktisi Taekwondo dalam sejarah perkembangan dan prestasi taekwondo Indonesia.

Siapa sangka pelatih sekaligus mantan atlet nasional taekwondo Indonesia ini pernah menorehkan prestasi tingkat dunia di ajang Olimpiade. Ia ketika itu berhasil memboyong medali perak di arena Olimpiade Barcelona Spanyol tahun 1992 silam. Padahal skor yang diperoleh bersama lawannya dari China Taipeh ketika itu empat sama.

Dan asal tahu saja, siapa yang menjadi pemenang waktu itu, ditentukan  oleh 3 kali wasit berdiskusi. Sebab dulu belum ada video replay dan sudden dead. Finally, Rahmi Kurnia pun harus puas di posisi kedua.

 

“Saya bangga dengan prestasi itu. Sebagai atlet zaman dulu rasanya prestasi itu gak hilang sampai sekarang. Apalagi juara di arena Olimpiade itu,”kenang ibu dari dua orang anak ini

 

Setidaknya itulah moment di mana taekwondoin putri Indonesia mampu menorehkan prestasi tertinggi di dunia. Bisa dibilang dari sederet mantan atlet dan atlet nasional taekwondo Indonesia sekarang, harus diakui jika Rahmi Kurnia hingga kini menjadi satu-satunya atlet putri yang prestasinya di Indonesia tak tergoyahkan.

 

Namun demikian dengan rendah hati dikatakannya prestasi tersebut buah dari kerja keras yang dilakukannya di Pelatnas ketika itu. Kerja keras dan berlatih dengan tekun di bawah bimbingan pelatih Indonesia dan Korea menjadi kunci suksesnya. Paduan ilmu dan bimbingan dua pelatih taekwondo berbeda kala itu membuatnya tak ingin beranjak dari bela diri asal Korea ini.

Setelah pensiun menjadi atlet dan duduk sebagai Kabid Binpres dan kadang merangkap sebagai manajer timnas di berbagai event Internasional di era kepengurusan Bapak Marciano Norman, Ia pun punya komitmen menularkan kemampuan yang dimiliki selama ini pada atlet yang tergabung di pelatnas.

Menurut pemegang sabuk hitam DAN VI ini, atlet taekwondo nasional sekarang mempunyai potensi yang besar untuk bisa meraih prestasi tertinggi. Tinggal bagaimana motivasi yang dimiliki atlet itu untuk mengeluarkan semua kemampuan yang dipunyai kala bertanding. Malah soal teknik dan taktik yang dipunyai atlet taekwondo Indonesia, sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dipunyai atlet dari negara-negara lain. Terpenting kata Rahmi, mental bertanding yang harus tetap terjaga untuk menghadapi lawan dari mana pun.

Karena itu dalam menghadapi berbagai kejuaraan internasional, sebagai Kabid Binpres di era kepengurusan Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, Ia senantiasa mempersiapkan atlet dengan sebaik-baiknya. Berkaca dari pengalamannya, ia mengaku amat berharap atlet taekwondo Indonesia sekarang ini bisa lebih fokus dan dapat menorehkan prestasi maksimal diberbagai event internasional. Khususnya di ajang multi event, Sea Games Manila dan Utamanya bisa tampil di olimpiade Tokyo 2020. Menurutnya, selain latihan yang rutin dan penuh dedikasi para atlet pelatnas diharapkan mampu menunjukkan nasionalisme-nya kala bertanding. Jika semua itu dimiliki sejak dini bukan tidak mungkin dikemudian hari Indonesia mampu berbicara banyak di kejuaraan-kejuaraan internasional di dunia.

“Memang tidak mudah tapi spirit dan mental yang kuat bisa mengubah segalanya,”kata mantan atlet peraih medali perak World Taekwondo Championship di New York tahun 1993 dan medali emas Eropa Open di Belgia tahun 1992 lalu itu kepada TIN.

Mengurusi atlet pelatnas, menurutnya bukan saja berkutat hanya pada soal teknis melatih, menjaga dan meningkatkan performa teknik, gaya bertanding dan seterusnya, tapi juga bagaimana setiap saat atlet harus terjaga dengan baik mentalitasnya. Faktor-faktor non teknis dengan berbagai variable masalah itulah yang seantiasa membutuhkan waktu ekstra bagi Rahmi. 24 jam penuh ia berusaha mengawasi dan memonitor para atlet. Karena itulah selain bertanggung jawab pada program pembinaan dan prestasi, Ia juga bertanggung jawab pada kualitas atlet dan pribadi serta pendidikan para atlet. Agar mereka yang dititipkan oleh pengprov-nya di pelatnas dapat dipertanggungjawabkan, bukan saja kepada pengurus di daerah, tapi juga kepada orang tua atlet.  

Jadi wajar apabila posisinya yang amat strategis tersebut, kadang dimaknai oleh mereka yang tidak paham dengan besarnya tanggung jawab Binpres, apalagi posisi Binpres dengan intensitas program kerja yang sangat padat tersebut, tidak tertopang oleh kinerja yang maksimal oleh bidang lain yg juga memiliki program dan kegiatan yang padat, sehingga banyak pihak menilai dirinya terlalu dominan. Padahal menurutnya yang dilakukan adalah mengisi ruang kosong dalam aktivitas yang menuntutnya harus cepat mengambil tindakan dan keputusan.

Ya.. Rahmi Kurnia mengaku kerap kali berperan bukan saja sebagai pengurus PBTI, tapi lebih dari itu, Ia lebih banyak menjadi Ibu bagi para atlet untuk mendengar semua keluhan dan mengupayakan solusinya. Konsekwensi mengorbankan waktu untuk suami, dan anak-anaknya itulah yang kadang membuat dirinya ekstra keras memberikan pengertian kepada keluarga atas tanggung jawabnya terhadap Taekwondo Indonesia.

Secara psikologis hal itu menurutnya wajar saja. Apalagi sebagai mantan atlet ia pun pernah merasakan hal yang sama - yang dirasakan atlet pelatnas. Dengan cara ini, fungsi pengurus, manajer atau pelatih menjadi komplit untuk bisa memainkan peran, baik pisik, teknik, mental dan psikologis bagi para atlet yang di pusatkan di pelatnas. Orang boleh saja menduga seorang atlet beladiri hanya rutin latihan dan bertanding saja. Padahal sesungguhnya atlet juga tak luput dari aneka persoalan yang dimilikinya.

“Sebagai pengurus yang langsung bersinggungan dengan para atlet, saya juga mesti dekat dengan mereka. Kan gak cuma soal latihan saja, urusan curhat atlet kadang ikut juga,” Ujar Rahmi

Terlepas banyak kekurangan mengenai kinerjanya sebagai kepala Bidang Pembinaan Prestasi, ia patut di apresiasi sebagai kabid binpres yang berhasil menata kelola pelatnas dengan baik. Berbagai prestasi taekwondo Indonesia yang ditunjukkan sejak dirinya berada dalam kepengurusan Bapak Marciano Norman, menjadi bukti bahwa dirinya memiliki kontribusi besar bagi perkembangan prestasi taekwondo Indonesia. Tentu berbagai capaian prestasi atlet taekwondo Indonesia tersebut, tak lepas dari dukungan semua pihak dan PBTI khususnya yang amat perhatian terhadap semua atlet nasional di pelatnas selama ini.

Ia pun mengaku optimistis, di kepengurusan PBTI yang baru di tangan ketua Umum Bapak Letjen TNI (Purn) Thamrin Marzuki ini, perkembangan dan prestasi taekwondo Indonesia akan terus pesat dan meningkat.

“Saya berharap atlet taekwondo Indonesia terus meningkatkan prestasinya di berbagai event internasional, dan kita harus mendukung seluruh program PBTI untuk mewujudkan itu semua.” Ujar Rahmi

*) Adt