Hasil Seleknas Taekwondo Junior, Sebuah Catatan Evaluasi

Jun, 27 2019
Opini

PBTI beberapa waktu yang lalu sukses menggelar Seleknas Taekwondo Junior Indonesia di GOR POPKI, Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (23/6/2019). Seleknas di buka secara resmi oleh oleh Ketua Umum PBTI, Letjen TNI (Purn) Thamrin Marzuki. Sesuai dengan arahannya, Ketua Umum PBTI meminta seleknas dijadikan sebagai bagian dari upaya PBTI untuk mengevaluasi sekaligus mempetakan kembali kekuatan komposisi atlet junior yang saat ini ada. Selain itu, ajang seleknas kali ini juga sebagai acuan bagi PBTI untuk melihat sejauhmana hasil dari program pembinaan dan prestasi yang dilakukan di daerah dan di PPLP.

 

Untuk memilih atlet, PBTI menugaskan tim Talent Scouting untuk melakukan proses pengidentifikasian dan penyeleksian sekaligus menganalisa dan merekomendasikan para atlet - yang dalam jangka pendek layak mengikuti Training Camp sebagai persiapan timnas taekwondo Indonesia mengikuti ajang kejuaran junior Asia (Asian Junior Taekwondo Championships) di Yordania yang berlangsung Juli 2019 mendatang.

 

PBTI menugaskan tim Talent Scouting yang terdiri dari Sun Jae Lee, Taufik Krisna dan Sumbar Wuryanto untuk kategori menilai atlet Kyorugi. Sementara tim talent Scouting untuk kategori poomsae dipercayakan kepada mantan altet nasional Maulana Haidir dan Muhammad Fazza Fitracahyo.

 

Yang menarik dari tugas tim Talent Scouting kali ini adalah adanya kemajuan dari segi penilaian. Tim Talent Scouting kali ini mencoba melakukan inovasi metode penilaian. Lebih jelas parameternya, lebih metodologis dan ilmiah. Tentu saja, pendekatan penilaian yang lebih akademis ini diharapkan membawa kemajuan yang signifikan. Yakni penilaian yang lebih fair dan obyektif serta dapat dipertanggungjawabkan,

 

Taufik Krisna, sebagai salah satu tim yang menginisiasi metode penilaian di tim Talent Scouting memahami posisinya yang krusial sebagai pihak yang menentukan kapasitas atlet, agar diperoleh penilaian yang bukan saja memudahkannya mempetakan kekuatan dan kelemahan atlet nasional nantinya, tapi juga dirinya menyadari bahwa setiap penilaian, saat ini mesti dapat dikomunikasikan dan diargumentasikan hasilnya secara rasional serta terstruktur namun mudah dipahami oleh pengurus propinsi di daerah yang menyelenggarakan pelatda dan PPLP sebagai institusi resmi yang membina dan mengembangkan prestasi para atlet. Karena soal seleknas, bukanlah sekedar soal penilaian menentukan atlet, tapi lebih dari itu adalah soal bagaimana melakukan evaluasi dan rekonstruksi pembinaan dan prestasi berdasarkan hasil rekomendasinya. Oleh karenanya, sejatinya Ia menilai bahwa apapun hasil penilaian yang direkomendasikan oleh tim talent scouting, hasilnya dapat bersinergi dan saling melengkapi dengan hasil evaluasi para pelatih dari atlet yang bersangkutan.

 

Terkait dengan perspektif penilaian itulah, maka Taufik Krisna menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan parameter kualitatif maupun kuantitatif yang lebih metodologis yang menjadi instrumen penting dalam mengidentifikasi dan mengukur kapasitas atlet yang bertanding. Dari pemantauan atlet, terlihat nantinya sejauhmana dinamika atlet selama bertanding. Baik dari segi technical skill, ketahanan dan konsistensi fisik atau stamina, power attack (kekuatan menyerang), pertahanan, movement (pergerakan), mentalitas serta intelegensia yang dimanifestasikan dalam strategi bertanding yang dilakukan para atket.

 

“Secara umum, kami bisa melihat bagaimana intensitas gerakan atlet selama dirinya berada di area pertandingan. Akan terlihat seluruh analisa pergerakan atlet dalam bentuk warna dan grafis, serta terlihat apakah atlet dominan atau sebaliknya.” Ujarnya.

 

Namun demikian. terkait  dengan hasil analisis ini, lebih lanjut menurut Taufik akan dilaporkan kepada Kabid Binpres setelah timnya berdiskusi dengan anggita tim talent scouting yang lain.

 

Sementara itu, anggota tim talent scouting lainnya, Sumbar Wuryanto menjelaskan bahwa dirinya optimis dari hasil seleknas junior ini, masih ada beberapa atlet yang dinilai sesuai dengan ekspektasinya. Walaupun secara umum dirinya menyebut bahwa setelah dirinya memonitoring dan menilai atlet yang berlaga di seleknas ini, Ia mengatakan bahwa tantanggan bidang pembinaan dan prestasi PBTI baik di pusat dan khususnya di daerah dan PPLP masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Khususnya terkait kesiapan sumber daya atlet dalam menghadapi peta persaingan dan upaya mengejar prestasi kejuaraan Internasional taekwondo di masa yang akan datang. Sumbar Wuryanto tidak menjelaskan secara detail, karena hasilnya harus di diskusikan dengan yang lain. Hal ini menurut Sumbar penting karena perspektif dan intepretasi penilaian antar tim Talent Scouting bisa jadi berbeda satu sama lain. Apalagi konsepsi aturan dan standarisasi penilaian atlet masih dalam tahap penyempurnaan dan masih perlu didiskusikan lebih lanjut.

 

Secara umum Sumbar Wuryanto menyebut bahwa kelas junior under 43, 45 dan 51 masih bisa kompetitif jika mereka di bina lebih intensif dalam pemusatan latihan nasional untuk di ikutsertakan dalam ajang kejuaraan Asia Junior. Sumbar Wuryanto sengaja tidak menyebutkan atletnya. Hal ini menurutnya untuk menghindari kesalahpahaman pengurus daerah, pelatih bahkan orang tua atlet kepada tim Talent Scouting/ PBTI. Untuk kelas-kelas diatas itu, dirinya menyebut bahwa semua pihak harus menyadari dan konsekwen bahwa kita masih perlu kerja keras untuk bisa bersaing di level Internasional.

 

Menurut Sumbar Wuryanto, ada 3 faktor mendasar yang menjadi catatan evaluasi serius tim talent scouting dari hasil seleknas, yakni pertama, masalah movement (pergerakan) atlet, kedua masalah stamina dan ketiga masalah attacking (serangan).

 

Masalah Movement (pergerakan) atlet yang secara sederhana dipahami sebagai ancang-ancang untuk melakukan attacking (serangan). Sumber Wuryanto melihat hampir seluruh atlet kebanyakan bergerak statis. Padahal seharusnya atlet bergerak dinamis dan mobile (mobile & dynamic movement). Karena kebanyakan atlet bergerak statis, maka ketika hendak menyerang atau melakukan counter, gerakannya cepat terbaca lawan. Masalah stamina juga menjadi sorotan penting. Karena hampir semua atlet tidak konsisten dalam mengatur irama pertandingan yang disebabkan jebloknya stamina. Praktis, sebagian pertandingan terlihat teknik dan kemampuannya bertanding hanya terlihat baik, dalam arti terjadi saling serang dengan menggunakan skill ketika ronde pertama saja. Ronde berikutnya, atlet cenderung bermain aman. Jika terjadi gap point yang sangat besar, terlihat atau cenderung karena lawan dalam keadaan fisik atau stamina yang jauh mengalami declinasi dengan lawannya.  Menurut Sumbar Wuryanto, persoalan stamina saat berlangsungnya Seleknas ini memang menjadi perhatian serius tim talent scouting mengingat banyak aspek yang menjadi faktor. Apakah karena faktor kedisiplinan atlet, faktor libur panjang sebelum dan setelah bulan Ramadhan, atau masalah kesalahan dalam menerapkan program latihan.

 

Masalah lain yang menjadi catatan adalah terkait dengan strategi menerapkan serangan. Sumbar Wuryanto melihat bahwa atlet junior yang mengikuti seleknas ini memang memiliki banyak kelebihan dari segi variasi dan teknik tendangan. Mereka dan kemungkinan para pelatihnya sepertinya update dengan banyaknya video tutorial dan video pertandingan-pertandingan internasional. Hal tersebut dibenarkan atlet dan pelatih ketika beberapa kali ditanya. Menurutnya, semangat belajar menganalisis video tutorial ini perlu dijaga dan terus di tingkatkan. Ini merupakan hal positif. Karena olahraga taekwondo terus berkembang dan dinamis baik dari segi aturan maupun tekniknya.

 

Namun dalam pertandingan, teknik juga harus linier dengan strategi dan timming. Sumbar Wuryanto melihat atlet masih tidak mampu memanfaatkan teknik yang baik dengan strategi menyerang sesuai dengan timming yang tepat. Akibatnya, banyak terlihat atlet ketika agresifitasnya tinggi dalam menyerang dengan menggunkan skill dan teknik yang baik, namun justru mereka kebanyakan mendapatkan Ganjeum dari wasit karena pelanggaran atau terjatuh. Karena timming menyerang yang tidak dibarengi dengan strategi yang efektif itulah terkadang atlet bagus di ronde awal, namun di ronde berikutnya, malah tak berdaya. Faktor inilah yang menurut Sumbar Wuryanto juga dipengaruhi oleh bagaimana peran pelatih di pinggir lapangan ketika menginstruksikan dan memberikan arahan serta motivasi kepada atlet. Sebab atlet junior adalah atlet yang masih muda yang bertarung jika tidak diarahkan, mereka lebih mengandalkan naluri dan emosi, bukan dengan strategi. Oleh karenanya, disitulah tanggung jawab pelatih yang seharusnya lebih efektif memainkan perannya di pinggir lapangan.   

 

Sementara itu, tim talent scouting untuk kategori Poomsae, Maulana Haidir dan M. Fazza juga memiliki persepsi yang sama mengenai peran dan tangung jawab tim talent scouting. Dirinya berpendapat bahwa menilai dan menyeleksi tim poomsae jauh lebih berat, karena yang dinilai adalah point atas intepretasi penilaian personal. Dalam konteks itulah memang tidak mudah memilih dan menentukan atlet berdasarkan sense of value dari atlet tersebut sesuai dengan perspektif dan fakta empiris dirinya (sebagai penilai) dalam mempelajari poomsae baik kategori recognize apalagi freestyle. Namun demikian, dirinya menyadari bahwa tuntutan memberikan penilaian yang obyektif tetap menjadi acuan. Oleh karenanya, menelaah hasil penilaian, kemudian menstrukturisasinya dengan paradigma kualitatif namun terukur dan dapat dipahami hasilnya oleh para pihak, menjadi tantangan tersendiri bagi Maulana dan Fazza. 

 

Maulana membandingkan mudahnya tim talent scouting di Korea dalam menentukan atlet. Bahkan tidak serumit disini, Di Korea, semua cukup dengan penilaian seperti saat pertandingan sesungguhnya. Yang terbaik ya itulah yang terpilih. Para atlet yang diseleksi oleh tim nasionalnya adalah mereka yang selalu intensif bertanding. Setiap kejuaraan, memiliki point, dan point terbanyak atlet disitulah dia dipanggil untuk diseleksi. Tidak ada lagi training camp, karena setiap saat atlet selalu berlatih dan intensif bertanding dan setiap saat bisa dipanggil timnas.

 

Di sini, sangat berbeda, faktor minimnya pengalaman bertanding, apalagi pertandingan internasional menjadi salah satu faktor yang menentukan kualitas atlet. Atlet poomsae misalnya, atmosfir pertandingan dan latihan tentu berbeda. Dengan seringnya dan intensifnya atlet mengikuti pertandingan, maka mentalitas bertanding tidak akan mempengaruhi kualitas skill. Justru sebaliknya mentalitas mendukung kualitas. Sehingga unsur kesalahan dalam gerakan poomsae sangat minim.  Atlet yang jarang mengikuti pertandingan, tentu akan berpengaruh pada mentalitasnya dalam menguasai “panggung” poomsae. Demam pangggung dan tidak fokus karena faktor besarnya atmosfir pertandingan, biasanya mengurangi bobot konsentrasinya dalam menguasai gerakan poomsae.  

 

Namun demikian, secara umum Maulana dan Fazza melihat bahwa bekal atlet saat mengikuti seleknas beberapa waktu yang lalu sebenarnya sudah cukup bagus. Dirinya memberikan pemahaman yang sederhana, bahwasanya “Atlet kita sudah punya modal 50, tinggal kita tingkatkan menjadi 80 atau 90 sampai 100.” Ujar Maulana

 

Dirinya juga berpendapat bahwa jika dinilai, mereka yang kemarin ikut seleknas tersebut ada yang layak tampil dalam jangka pendek untuk kejuaraan Asia Junior di Yordania, ada yang potensinya bisa lebih bagus mungkin jika mendapat polesan lebh baik di pelatnas dalam beberapa waktu. Semua nantinya akan didiskusikan dan dipresentasikan kepada Kabid Binpres dan tim talent scouting lainnya.

 

Dari segi teknik, Maulana menilai atlet kita sudah cukup baik, dari soal jurus dan power. Yang perlu menjadi catatan serius adalah masalah kesimbangan (balancing) dan flow gerakan yang terlihat masih kurang mengalir dengan baik. Untuk Freestyle, dirinya melihat atlet kita sudah makin baik, tinggal kontrol dan penguasaan lapangan yang diimbangi dengan mental dan nyali atraktif yang menentukan kesimbangan. Dirinya optimis bahwa bibit-bibit muda atlet poomsae bisa memberikan yang terbaik untuk prestasi taekwondo Indonesia di masa depan.   

 

Pada akhirnya, hasil dari tim talent scouting ini adalah merupakan rekomendasi bagi PBTI dan khususnya sebenarnya bagi pengurus propinsi dan PPLP untuk bersinergi menelaah dan mengevaluasi hasil seleknas kemarin untuk perbaikan yang lebih baik untuk kualitas atlet junior dimasa depan. Dalam jangka pendek, beberapa atlet yang menang bertanding kemungkinan saja akan dipanggil mengikuti training camp pelatnas, namun dalam jangka panjang, bisa saja kemungkinan mereka yang tidak menang, namun dimata tim talent scouting memiliki talenta yang sangat baik, kemungkinan tetap menjadi daftar bagi PBTI untuk memanggil mereka di kemudian hari untuk event-event internasional yang dipersiapkan PBTI dimasa yang akan datang. 

 

*) A. Trinanda

Foto : Andru Pangabean

 

 

 

.