Taekwondo, Antara Bisnis dan Kepentingan Memajukan Prestasi

Nov, 19 2016
Opini

"Kejuaraan membludak dengan peserta ribuan, lama bertanding yang cuma sekian detik, peserta bertanding bisa sampai malam, bahkan peserta ikut kejuaraan, pasti dapat medali sudah sering kita saksikan. Gambaran tersebut adalah fakta  bahwa pelaksanaan kejuaraan taekwondo di Indonesia masih begitu terasa kental kepentingan bisnisnya, ketimbang kepentingan memajukan prestasi para atletnya ?"

Menurut salah seorang pelaku taekwondo yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan. Ia tidak yakin penyelenggara kejuaraan semata-mata punya idealisme untuk memajukan prestasi taekwondo. Yang Ia percaya dan yakin penyelenggara pasti menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari setiap kejuaraan taekwondo. Oleh karenanya apapun akan dilakukan, termasuk kalau perlu melanggar aturan. Biasanya yang sering dilanggar adalah jumlah kuota yang melebihi batas dan kategori berat badan (karena tidak perlu timbang badan).

“Urusan idealisme sih cuma ada di hati masing-masing, tapi urusan ekonomi dan kepentingan bisnis, itu yang bisa kita lihat” ujarnya kepada TIN.

Opini demikian memang menjadi perbincangan klasik diantara sesama pelaku taekwondo. Pengurus hanya bisa memberikan tekanan moral bahwa ada harapan besar kepada penyelenggara terhadap nasib pembinaan taekwondo di Indonesia. Karena ditangan penyelenggara pertandingan/kejuaraanlah output pembinaan, berupa pengalaman bertanding dan aplikasi atas skill (kemampuan) atlet terasah.

Dengan banyaknya minat terhadap olahraga ini, ditambah dengan atmosfir kegiatan yang begitu massif, maka taekwondo saat ini memang serta merta sudah menjadi bagian dari sebuah industri yang menjanjikan. Dalam arti olahraga ini sudah menjadi lahan bisnis subur yang tak pernah surut jika dikelola secara professional. Dan faktanya, tidak sedikit dari pelaku taekwondo yang fokus mengelola olahraga ini, kehidupannya sangat mapan.

Pelatih sekaligus pengelola klub/dojang misalnya, ia bukan saja mendapatkan iuran dari para siswa, bonus tambahan iuran setiap 3 atau 4 bulan sekali jika UKT, pertandingan/ kejuaraan, bahkan kebutuhan perlengkapan dan peralatan taekwondo, seperti dobok, headguard, body protector dan sebagainya, dikelola dan dikoordinir sendiri kepemilikannya kepada siswa. Apalagi jika pelatih dan pengelola dojang itu memiliki lebih dari satu dojang dan beberapa kelas privat.

Itu dari sisi penyelenggara kejuaraan/pertandingan, dimana olahraga taekwondo begitu sangat massif dan intens menggelar berbagai kejuaraan baik dalam skala lokal, maupun nasional.  Bahkan jika diprosentasikan, dengan asumsi banyaknya kejuaraan yang tersebar di seluruh Indonesia, Kejuaraan/pertandingan taekwondo bisa ada setiap minggu di seluruh Indonesia. Begitu prospektusnya olahraga ini menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Bagaimana dari sisi pelaku bisnis perlengkapan dan peralatan taekwondo ?

Peluang dan Persaingan pengusaha peralatan dan perlengkapan taekwondo

Bagi pelaku bisnis perlengkapan dan peralatan taekwondo, tentu hal ini menjadi pangsa pasar yang sangat prospektus. Dan jika kita lihat faktanya di lapangan, pelaku bisnis di industri perlengkapan dan peralatan taekwondo hanya sedikit. Tentu saja karena sedikit, pelaku taekwondo sudah sangat mengenal siapa saja mereka yang bergerak di industri ini. Baik dari skala lokal hingga nasional, bahkan pelaku bisnis ini di Indonesia sudah ada yang menembus pangsa internasional, ada pula mereka yang sudah secara resmi menjadi distributor perlengkapan olahraga ini di Indonesia.

Salah seorang pelaku bisnis di industri taekwondo mengungkapkan kepada TIN baru-baru ini di kantornya, bahwa ia bersyukur memiliki pengalaman sebagai pegiat olahraga taekwondo, dan berkecimpung dalam industri olahraga asal Korea ini. Hal tersebut dikatakannya karena ia memiliki pengetahuan dan networking luas, sehingga, dengan jaringan yang luas itu, kepentingan membangun hubungan yang saling menguntungkan bisa diperolehnya dengan baik. Termasuk hubungannya dengan pengurus taekwondo, baik di daerah maupun di pusat. 

Namun ia menyayangkan bahwa ditengah masih sedikitnya pelaku industri ini di tanah air, seharusnya masing-masing pelaku bisnis dapat saling memahami eksistensi dan ikhtiar kepentingan bisnisnya secara sehat. Tidak serakah, apalagi sampai saling menjatuhkan. “Jangan cuma di fikirkan hanya persaingan dan cari untung sebesar-besarnya, sampai mengabaikan etika.” Ungkapnya.

Ditambahkannya, malah ia berharap seharusnya mungkin lebih baik diantara mereka membuat suatu komunitas atau paguyuban organisasi sehingga antar pelaku bisnis taekwondo ini memiliki kesempatan dan minimal bisa saling berbagi pengalaman dan bertukar informasi. Dengan adanya paguyuban tersebut, kemungkinan besar menurutnya akan terjembatani antara idealisme dan bisnis dalam memajukan olahraga ini. Bisnis perlengkapan dan peralatan taekwondo maju, seiring maju pula prestasi taekwondo Indonesia di pentas dunia.

“Saya melihat di industri ini, tidak jarang pelakunya mulai tampak ekstrim. Saling sikut-sikutan untuk mendapatkan dan merebut segmen dan pangsa pasar.”  Ujarnya.

Menurutnya, memang tidak ada aturan tertulis disini (di industri taekwondo), tapi menurutnya, Industri di Taekwondo sama saja dengan industri di bidang lainnya, yaitu menjual barang dan Jasa. Tanpa disadari kedua hal tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Penjual jasa (dalam hal ini pelatih) membutuhkan penjual barang untuk memenuhi kebutuhan latihan/siswa-nya, sedangkan penjual barang tentu juga membutuhkan pelatih (penjual jasa) dalam memasarkan produk-nya. Intinya semua bergantung kepada selera pelatih. Ia punya pilihan untuk membeli beragam produk.

Ditambahkannya, kondisi yang demikian itu adalah normal. Ia secara khsusus mengatakan bahwa dirinya merasa tidak terancam dengan keberadaan para pesaing. Ia merasa kondisi seperti ini adalah kondisi normal, terjadi di segala bidang kehidupan. Dan dirinya jadikan ini sebagai pelecut untuk lebih memotivasi supaya berkreasi dan berkembang. Seperti mengeluarkan produk baru,  menciptakan inovasi baru dalam hal marketing dan strategi lainnya. Sama halnya ketika dirinya baru masuk ke industri ini, dimana sudah banyak pemain atau pelaku bisnis yang lebih senior dan sudah ada terlebih dahulu, bahkan puluhan atau belasan tahun sebelum saya, dan persaingan itu mengalir dengan sendirinya. Asal dengan catatan, kompetisi dilakukan secara fair, tidak melenceng dari kaidah etika bisnis. *) Red