Siswa Didik, Diantara Ambisi Orang Tua dan Pelatih

Dec, 27 2017
Opini

Beberapa kali belakangan ini saya sering diajak berdiskusi dengan banyak orangtua murid yang rata-rata mengeluhkan performa anak-anaknya yang menurun saat kejuaraan. Sebelumnya mereka, sang anak, langganan juara 1, medali emas, kini malah menurun dan tak jarang kalah sejak babak penyisihan. Sementara latihan didalam klubnya, di timnya tetap rajin, tetap semangat dan tak mengeluh meski harus pulang malam dengan jadwal seminggu sampai 3 atau 4 kali.

 

Mendengar ini saya hanya mampu tersenyum, karena sebenarnya ini fenomena umum di kalangan "atlet" banyak klub olahraga di Indonesia, terutama yang berorientasi pada prestasi dan medali. Baiklah mari kita coba pahami permasalahannya, menurut sudut pandang saya selaku pelatih beladiri yang sudah duapuluhan tahun melatih semua tingkatan usia, sejak usia TK sampai mahasiswa. Dari banyak pertanyaan yang keluar dari para ortu tersebut sebenarnya sudah ada jawabannya sendiri, hanya saja kita, terkadang lebih memilih menegasikan kenyataan, tanda-tanda jelas yang terlihat di depan mata. Mari kita lihat satu persatu.

 

Pertama, harus dipahami bahwa tidak semua tingkatan latihan harus berorientasi kepada prestasi. 


Ya memang benar sekarang banyak sekali kejuaraan tingkat pemula, hingga terakhir saya lihat video anak-anak usia TK berlaga dalam kejuaraan.  Lucu sih, bahkan mungkin kita juga berpedapat ini baik untuk perkembangan mental anak-anak ke depannya.  
Oke, saya setuju.! Tapi itukan jawaban dari orangtua dan atau pelatihnya, apakah sudah pernah ditanyakan pada anaknya langsung baik sebelum maupun sesudah pertandingan? Saya setuju semangat bersaing akan meningkatkan kewaspadaan dan kemandirian seorang anak tetapi apakah semua dalam satu tim dan satu tingkatan usia bisa diikutsertakan?

 

Maka izinkan saya bertanya, ketika orangtua dan atau pelatih mengijinkan anak dan siswanya ikut kejuaraan sebenarnya itu keinginan siapa, keinginan orangtua untuk membanggakan anak-anaknya di depan orangtua lainnya atau keinginan pelatih yang haus gelar dan ingin mendapatkan kredit dari hasil perjuangan murid-muridnya?


Coba jawab jujur. Jika jawabannya tidak, karena semua keinginan anaknya, kemauan siswa didiknya maka akan timbul pertanyaan kedua yang menjadi poin kedua.

 

Kedua, seberapa sering dalam satu tahun semestinya sebuah klub, seorang atlet mengikuti kejuaraan? Pertanyaan ini penting dijawab karena akan mengindikasikan sebarapa baik seorang pelatih menyusun program yang tepat bagi anak didiknya. Pendapat pribadi saya, meski klub kita didominasi oleh juara dunia sekalipun, mereka tetap harus punya program yang jelas dalam satu tahunnya, kejuaraan apa saja yang akan diikuti, berapa bulan jarak jeda antar kejuaraan untuk diikuti, berapa orang yang pantas untuk diikutsertakan dan berapa penting sebuah kejuaraan untuk diikuti? Jika sebuah klub mengikuti kejuaraan hampir dua bulan sekali dengan anggota tim yang itu-itu saja, maka jangan aneh jika kemudian banyak yang cedera kemudian dalam dua tahun terakhir akan banyak yang mengundurkan diri, terutama siswa didiknya yang berusia kadet dan junior. Ketahuilah, anak-anak usia SD dan SMP sangat mudah didera rasa bosan. Untuk menghilangkan rasa bosan tanpa harus menghilangkan ego pelatih dalam kejuaraan maka haruslah pelatih mengetahui bobot kejuaraan yang diikuti.

 

Jika awalnya ikut dalam kejuaraan pemula yang semua dapat medali maka setelah dua tiga kali coba harus ditingkatkan kepada kejuaraan yang lebih serius, kelas prestasi. Setelah mapan di kelas prestasi, maka ikutsertakan di kejuaraan seleksi tingkat cabang, daerah hingga mampu seleksi nasional. Lalu upayakan jangan ikut kejuaraan di daerah yang sama, alias di situ-situ aja, sama dia-dia lagi lawannya. Pelatih dan orangtua harus berani ajak siswanya keluar daerah atau bahkan ke luar negeri untuk bertanding. Ini namanya mencari pengalaman y

ang benar, tidak itu-itu saja dan dia-dia lagi.

 

Ketiga, jika kemudian kita lihat sang anak rajin sekali ikut latihan bahkan sampai malam, tetapi prestasinya biasa-biasa saja, pernahkah kita sadari bahwa mungkin saja anak ini memang ingin berlatih untuk mencari teman, bersosialisasi, gaul bukan untuk mencari prestasi. Jangan salahkan anak jika tak pernah jadi juara satu, membawa pulang medali emas, karena memang bukan itu tujuan dia berlatih, dia hanya berlatih karena hobbi dan ingin berteman.

 

Keempat, Jika semua kita pikir sudah fix anak ini akan menang dan berjiwa pemenang, tetapi pada saat kejuaraan malah melempem, saya curiga, jangan-jangan ada salah kata, ada salah ucap yang dikeluarkan oleh orangtua yang membuat sang anak tak bersemangat lagi atau tidak fokus pada kejuaraannya.

 

Sekali lagi saya bertanya, sebenarnya yang ingin tanding anaknya atau orangtuanya, kok orangtuanya yang semangat sementara anaknya biasa-biasa saja? Pernah bahkan saya lihat ada atlet yang ditampar dan disiram Aqua oleh bapaknya karena kalah pada kejuaraan oleh atlet yang levelnya dibawah sang anak. Sebenarnya yang ingin tanding pelatihnya atau atletnya? Kok ya tiap bulan semua kejuaraan dia ada dan aktif? Oke jika atletnya ganti-ganti. Jika tidak? Stok atletnya hanya beberapa saja dan terus diforsir untuk meraiih medali, lantas wajarkah jika timnya mengalami kejenuhan?

 

*) Ade Muhammad Sujud