Sabeum Triono : Klub Beladiri Zaman Sekarang Filosofinya ‘Respek dan Uang’.

Nov, 23 2016
Opini

Saat ini klub atau dojang beladiri makin banyak diberbagai tempat. Gambaran banyaknya klub atau dojang ini menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk menegetahui dan mempelajari ilmu beladiri semakin meningkat.


Tidak terkecuali klub atau dojang beladiri taekwondo. Tempat berlatih (home base) Klub atau dojang yang tersebar-pun sangat beragam. Dari yang memanfaatkan lahar parkir, halaman sekolah, numpang dan/ sewa tempat di GOR atau Stadion dengan peralatan latihan sekedarnya, hingga tempat berlatih yang nyaman dengan menyewa tempat ekslusif layaknya Gym, disertai dengan peralatan latihan yang lengkap.  Walaupun klub yang berlatih di halaman parkir, halaman sekolah/ instansi dan areal publik lainnya juga banyak yang dari segi eksistensi telah mapan. Dalam arti memiliki fasilitas dan peralatan yang sangat baik.  Jadi mungkin ini persoalan Prestise pelatih saja. Tapi bukankah memang pelatih punya pilihan dalam melatih, sehingga pilihan tersebut berkontribusi atau memiliki imbasnya kepada penghasilan pelatih ?

Terkait dengan fenomena tersebut, salah seorang pelatih beladiri taekwondo dan Mua Thai yang memiliki beberapa dojang di Karawang, Triono mengatakan,  bicara soal klub beladiri zaman sekarang filosofinya ada dua, yakni Respek dan Uang, ya dua itu saja mewakili semua. Semua harus terkelola dengan baik.
Menurutnya,  jika ada pelatih yang kesulitan dana saat ia sendiri mau ujian DAN, berarti ada yang salah dalam manajemen tim-nya. Tim harus tumbuh bersama, bukan cuma murid yang tumbuh, tapi pelatih juga tumbuh, juga sasananya tumbuh (peralatan dll).

“Ketika Pelatih memasang 'tarif’, itu bukan untuk mengeksploitasi siswa, namun ‘harga’ tersebut sebagai acuan pelatih untuk 'memantaskan’ fasilitas layanan pelatihan. Pelatih akan berusaha mengemas dirinya untuk ‘pantas' dengan harga tersebut”. Ujar Triono

Ditambahkan Triono, Ibarat jualan, barang berkualitas dan ber-merk tentu tidak dijajakan di jalanan, di lapangan, di pasar malam, tapi di sebuah toko, butik, studio atau Mall. Pelatih harus menghargai prosesnya sendiri, jika ia pedagang, mau jualan di mana? emperan atau buka gerai? itu pilihan.
“Barang bermerk dan berkualitas sepantasnya di pajang di toko, bukan di emperan, barang dagangannya bukan KW kan ? ” Pungkas Triono

Lebih lanjut Triono mengatakan, bahwa pernah suatu ketika seorang pelatih team anak-anak berkeluh kesah menyoal keuangan teamnya yang kurang sehat. di sisi lain ia tak tega untuk menaikkan iuran bulanan siswa. enggak tega, mereka umumnya pelajar, katanya.

Saya bilang: "Coach, ya siapa bilang mereka pekerja apalagi "boss", kita tidak meminta anak-anak tersebut membayar. tetapi kita meminta "orangtuanya" untuk mendukung pro-aktif anak-anaknya yang mereka titipkan kepada kita. so, bagaimana komunikasi coach dengan para orantua siswa, ?

"Kesuksesan team remaja sangat bergantung tiga pihak. yakni siswa, pelatih dan orangtua.. sekali lagi, orangtua". Tegasnya