Rhastya Dhanisia (Tata), Idealisme Seorang Pelatih itu Teruji Ketika Menilai Siswanya Saat UKT

Jan, 03 2019
Opini

Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) inheren atau sama layaknya seperti ujian akademik ketika kita sekolah atau kuliah. Sebelum ujian, kita pasti melaksanakan yang namanya proses kegiatan belajar dan mengajar. Output kegiatan belajar mengajar tersebut adalah ujian. Kita diuji atau di test sejauhmana penguasaan dan pengetahuan materi pelajaran yang telah ditransformasikan guru atau dosen kita selama kurun waktu tertentu kebelakang.

Biasanya parameter akademik sebagai tolok ukur ujian adalah materi yang telah disampaikan sebelumnya. Jika hasilnya lulus, secara relatif kita dapat menyimpulkan bahwa proses kegiatan belajar mengajar tersebut dianggap berhasil. Begitu pula sebaliknya. Jika hasilnya tidak lulus, berarti menunjukkan ketidakberhasilan dari proses kegiatan belajar mengajar tersebut. Biasanya jika siswa dinyatakan tidak lulus, maka akan disusul dengan ujian HER (pengulangan), jika dianggap nilainya dibawah kualifikasi kelulusan, maka siswa tersebut juga akhirnya dinyatakan tidak lulus.

Dalam konteks itu maka keberhasilan indikator belajar mengajar dapat disimpulkan ditentukan dari setidaknya 4 unsur yang saling bertalian dan saling mempengaruhi. Yakni tenaga pengajar itu sendiri, siswa, kurikulum/metode dan kondisi lingkungan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, bisa jadi yang menyebabkan siswa itu tidak lulus karena faktor siswanya, bisa jadi karena faktor gurunya atau bisa jadi karena kurikulum atau metode nya yang salah.

Jika kemudian ujian tidak menjadi output penting sebagai “goal oriented” berhasil-tidaknya kegiatan belajar mengajar, maka tentu sasaran dari keinginan yang hendak dicapai dari proses tersebut juga menjadi tidaklah penting. Dengan kata lain siswa sebagai subyek pendidikan tidak menjadi fokus dari proses kegiatan belajar mengajar tersebut. Justru siswa malah menjadi obyek dari pihak yang dianggap menyelenggarakan pendidikan.

Bagaimana dengan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Taekwondo

Menurut praktisi dan pelatih taekwondo, Rhastya Dhanisia atau yang biasa disapa Tata, mengatakan bahwa biasanya di klub atau dojang UKT geup itu berjalan hanya seperti rutinitas kalender kegiatan klub, yang maaf tiap siswa pesertanya hanya seperti formalitas. Diuji lalu kemudian 99% dipastikan kelulusannya. Apabila ada yang belum memenuhi syarat, biasanya akan diadakan Ujian HER (perbaikan) yang ujung-ujungnya pasti lulus juga dan sertifikatnya pun tetap di proses seperti peserta lulus yang lain. Umpamanya hanya hukuman jera formalitas atau menunda kelulusan saja.

Malah berdasarkan pengamatannya, banyak peserta yang tadinya tidak diluluskan oleh penguji tapi akhirnya tetap diluluskan oleh pelatih unitnya. Kalau sudah begitu keadaanya, lalu apa gunanya di uji oleh si penguji ?

Bahkan "lazim" bahwa ujian menurutnya hanya jadi seperti kalender rutin yang tiap pelatihnya dapat bonus. Terlebih kalau bisa mengirim siswa banyak. klub pun demikian. selain sebagai kalender rutin, ujian hanya jadi momen untuk menambah kas klub ?

Disisi lain, menurutnya peran pelatih juga kerap diintervensi oleh orangtua siswa. Atau peran penguji tidak sebagaimana mestinya. Ada sungkan untuk memberikan nilai buruk kepada siswa dari unit tertentu, dikarenakan pelatih unit itu punya peran penting misalnya. Akhirnya kelulusan jadi hal yang lumrah. Standarisasi dan idealisme-pun susah di terapkan. Yang ada akhirnya menurunkan standar.

Benar tidaknya pandangan pelatih yang pernah bergabung di Taekwondo Bulungan dan saat ini membina dojang Sosial di Jakarta Barat ini, tentu masing-masing klub dapat menilainya sendiri. Namun demikian, dari pengalaman dan pengamatannya sebagai pelatih, justru keadaan tersebut menjadi salah satu catatan penting terkait tantangannya dalam upaya menciptakan standard untuk membina dan mengembangkan kualitas prestasi taekwondoin kearah yang lebih baik. Sebab di UKT itulah eksistensi dan reputasi klub serta kredibilitas pelatih sejatinya dipertaruhkan.

Oleh karenanya, menurut Tata, dalam UKT tetap dibutuhkan landasan Das Solen atau idealisme (norma, sikap dan perilaku yang menjadi rujukan ideal) sebagai pemahaman mendasar bagi pelatih untuk menciptakan standard dalam menilai keberhasilan atau ketidakberhasilan program pembinaan dan kepelatihan.

“Memberikan nilai apa adanya sesuai dengan penguasaan skill dengan harapan agar siswa bisa berjuang dengan serius disetiap goal-nya dan tidak ada tebang pilih atau obyektif dalam penilaian, adalah salah satu ukuran dari pentingnya nilai idealisme (das solen) tersebut.” Ujar pelatih taekwondo yang mampu menggalang praktisi dan pemerhati taekwondo di jejaring sosial dengan jumlah pengikut terbesar saat ini yakni sekitar 30 ribu anggota lebih itu.

Disamping itu lanjutnya, penilaian UKT juga bukan sekedar menilai skill para siswa semata, tapi lebih dari itu. Sejatinya penekanan penilaian dalam UKT adalah bagaimana membentuk nilai-nilai kematangan kepribadian dan karakter mereka dalam menghargai setiap jerih payah yang mereka lakukan untuk meraih sukses, yang nantinya diharapkan itu semua bisa berguna bagi masa depan mereka baik di sekolah maupun di dunia kerja.

Intinya keberhasilan dari suatu ujian berupa kenaikan warna sabuk yang dikenakan adalah produk dari proses kerja keras dari latihan itu sendiri. Tidak ujug-ujug diraih secara instan, apalagi tanpa proses yang tidak ‘berkeringat’.

“Intinya balik lagi, beda warna, beda pola dan konsep. Tiap pelatih punya ciri khas karakter masing-masing dalam melatih dan menetapkan kebijakan di dojang. Tiap dojang punya aturan main tersendiri. Yang pastinya disesuaikan dengan kebutuhan juga kapasitas siswa. Meletakkan nilai-nilai idealisme dalam sebuah produk pembinaan prestasi siswa sebagai atlet yang nantinya diharapkan berprestasi memang dilematis. Kuantitas dan kualitas sering menjadi pilihan sulit. Seperti pisau bemata dua.” Imbuhnya.

Namun demikian, menurutnya sebuah klub haruslah tetap memilih kualitas daripada kuantitas sebagai wujud tanggung jawab moralnya dalam melaksanakan jati diri sebagai seorang Judansha.

“Ekstrimnya, lebih baik tersisa 3 siswa tapi singa semua. Daripada 100 siswa tapi hanya kambing semua. Sebab Kambing walaupun di didik layaknya singa, ia tetaplah seekor kambing ” Terang pelatih dibawah didikan Master Willem Gerizz tersebut.

Tata menyadari bahwa regenerasi taekwondo itu lebih rumit dan ketat daripada sekedar memenangkan podium 1 pada kompetisi. Terlihat jelas banyak teman atau kerabat kita yang dulunya mantan juara tapi harus gantung sabuk karena alasan pekerjaan atau lainnya. Tapi salut untuk teman-teman taekwondoin yang sampai saat ini masih gigih untuk meneruskan mimpi pelatihnya untuk regenerasi baik di dojang asal maupun melebarkan sayap mendirikan dojang lagi.

Itu semua memang seleksi alam. Pelatih harus ikhlas walaupun pastinya memang sangat berat. Itulah yang saya maksud bahwa nilai-nilai idealisme tetap menjadi bagian penting dari wajah kita sebagai seorang pelatih dan penguji di UKT yang notabene merupakan pihak yang paling bertanggug jawab meletakkan arah regenerasi taekwondo Indonesia di masa mendatang. Ibaratnya pelatih adalah busur yang mengarahkan siswa sebagai anak panahnya ketempat yang semestinya. Kuncinya tetap ada dipelatih, mau diarahkan kemana siswa yang didiknya. *) Red