PBTI Sukses Menyelenggarakan High DAN Promotion Test 2021

Mar, 07 2021
Info PBTI

Bagi seorang praktisi taekwondo tingkatan standard kapasitas dan kompetensi yang terakreditasi secara formal menjadi sangat penting sebagai prasyarat bagi seorang taekwondoin melakukan aktivitasnya, baik sebagai atlet, apalagi sebagai seorang pelatih dan wasit.  Dan standard pengakuan akreditasi bagi praktisi taekwondo itu bukan saja ditentukan oleh tingkatan sabuk (warna) yang dikeluarkan oleh PBTI sebagai induk cabor taekwondo saja. Tapi lebih dari itu, pengakuan akan kapasitas dan kompetensi seorang taekwondoin, ditentukan pula oleh tingkatan DAN, hingga mencapai level High DAN atau DAN tertinggi yang diakui secara resmi oleh institusi yang mengakreditasinya yaitu Kukikwon di Korea. Demikian hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PBTI, Letjen TNI H.M Thamrin Marzuki ketika membuka Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) atau High DAN Promotion Test 2021 di DODIK Bela Negara, Kodam III Siliwangi Bandung (7/3).

 

  Lebih lanjut Ketua Umum PBTI mengatakan bahwa tingkatan atau level ‘DAN’ itulah yang menjadi “legitimasi” penting bagi seorang praktisi taekwondo untuk berprofesi, berkarir dan berkiprah dalam aktivitasnya begiat dalam lingkup pengabdian di olahraga taekwondo. Semakin tinggi tingkatan DAN, maka menurutnya seharusnya seseorang itu semakin memiliki kapasitas, peran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam memajukan taekwondo.

 

“Pada prakteknya legitimasi ‘DAN’ ini menjadi salah satu indikator untuk meletakkan posisi sekaligus tangggung jawab profesi seorang praktisi taekwondo di setiap kegiatan taekwondo. Selain tentunya kapasitas, dan pengalaman pendidikan dan latihan yang selama ini diikutinya.  Apalagi tak jarang syarat mutlak untuk bertugas mengikuti pendidikan perwasitan atau kepelatihan didasari oleh standard minimal tingkatan DAN – Kukkiwon yang dimiliki.” Terang Thamrin Marzuki.

 

Ketua Umum PBTI menambahkan bahwa upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas pemegang Tingkatan DAN dan High DAN adalah bagian dari program PBTI.  Untuk kali ini, kegiatan High DAN Promotion Test 2021 diikuti oleh 53 praktisi taekwondo dari 13 propinsi, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta,  Jawa Tengah, Banten, Sumatra Selatan, Kepulauan Roau, Sumatra Barat, Riau, Sumatra Utara, Aceh,  Kaimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Ditengah suasana pandemic Covid – 19 dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat, mereka mengikuti ujian kenaikan tingkat ada yang dari  DAN 4 ke DAN 5 sebanyak 17 orang, dari DAN 5 ke DAN 6 sebanyak 7 orang dan dari DAN 6 ke DAN 7 sebanyak 29 orang. Para peserta akan mengikuti serangkaian test atau uji kompetensi,  baik teori maupun praktek. Antara lain, Basic Movement, Poomsae, Honsinsul, Kyorugi dan Kyukpa.

 

Menurut Ketua Umum PBTI, kapasitas pemegang DAN, apalagi High DAN seharusnya inheren dengan kapasitasnya sebagai pelatih atau sebagai wasit taekwondo yang bertanggung jawab mengimplementasikan dan mentransformasikan nilai-nilai edukatif dan karakter moral - filosofi taekwondo. Sehingga diharapkan olahraga taekwondo mampu menjadi bagian dari nilai-nilai kultural pembentukan character building suatu bangsa.   Jadi, begitu besarnya tanggung jawab seorang praktisi taekwondo pemegang sabuk hitam – DAN tersebut yang tersematkan disabuk mereka para taekwondoin.

 

“Dalam kerangka membangun paradigma itulah PBTI meletakkan peran dan tanggung jawab, serta kebutuhan kompetensi bagi para praktisi taekwondo untuk  menyediakan ruang dalam bentuk program dan sarana  yang mempermudah bagi mereka untuk mengembangkan potensi kapasitas dan kualitas profesinya sebagai pelatih maupun wasit.  Dan salah satu upaya untuk menuju proses pengembangan kapasitas itu adalah dengan meng-upgrade kapasitas dan kompetensinya yang ditentukan melalui Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) atau promotion test DAN secara rutin dan berkala.” Ujar Thamrin 

 

Untuk diketahui bahwa Korea sebagai ‘ibu kandung’ dari olahraga taekwondo, melalui organisasi yang bergerak pada nilai-nilai pegembangan dan edukasinya yang bernama Kukkiwon, telah memiliki parameter untuk menentukan kualitas strata bagi pemegang tingkatan DAN.  Melalui regulasinya, mereka menyerahkan tata kelola UKT (low) DAN kepada negara masing-masing. Namun khusus High DAN, mereka tetap meminta para peserta untuk mengikuti UKT di Korea atau di Kukkiwon. 

 

Tentu bagi negara-negara yang menjadi member di Kukkiwon seperti Indonesia, ini akan menjadi problem. Bukan saja pada masalah tempat untuk ujian, tapi juga pada besarnya biaya dan lamanya waktu. Maka wajar, para praktisi Indonesia amat sulit mencapai High DAN karena faktor itu. Ada yang bertahun-tahun baru berkesempatan mengikuti UKT, bahkan ada yang stagnan, tidak pernah mengikuti UKT kenaikan DAN.

 

Terkait pengalaman dan masalah itulah PBTI, 2 tahun lalu telah berhasil membuat kesepakatan kerjasama kepada Kukkiwon. Bahwa High DAN bisa dilaksanakan di Indonesia. Dan Alhamdulillah, dengan pertimbangan dan kualifikasi penguji sesuai dengan standarisasi Kukkiwon, UKT High DAN bisa dilaksanakan di Indonesia.  Dan Ujian High DAN kali ini adalah yang kedua kalinya dilaksanakan setelah tahun 2019 lalu kita bisa selenggarakan di Cibubur.

 

Secara periodik, program  UKT High DAN ini akan menjadi program 2 tahunan PBTI untuk terus secara massif meningkatkan kapasitas para praktisi Taekwondo dengan legitimasi Tingkatan DAN yang dimiliki. Harapannya tentu saja dengan makin banyaknya praktisi taekwondo Indonesia yang tersematkan tingkat DAN dalam profesinya, maka akan berimplikasi pada semangat, motivasi dan orientasi dalam membina dan mengembangkan prestasi para atlet. *) Adt