Hasil Taekwondo di Asian Games 2018, Sebuah Catatan Kritis

Aug, 27 2018
Opini

Perhelatan akbar Asian Games 2018 cabang olahraga (cabor) taekowondo telah berakhir. Pesta olahraga terbesar se-Asia untuk cabor taekwondo itu berlangsung dari tanggal 19 – 23 Agustus 2018. Seperti yang sudah diketahui bersama, taekwondo Indonesia berhasil meraih sekeping medali emas di kategori individual Poomsae atas nama Defia Rosmaniar. Selebihnya semua kategori baik poomsae maupun kyorugi yang kita ikuti, tidak satupun medali yang berhasil kita raih.

Hasil satu medali emas tersebut menjadi anti klimaks dari perjalanan panjang persiapan timnas taekwondo Indonesia menuju Asian Games 2018 ini. Kurang lebih empat tahun tim ini dipersiapkan. Hasilnya, memang sudah sesuai target yang dibebankan kepada PBTI. Bahkan target satu emas tersebut adalah target tertinggi dan terbaik sepanjang sejarah selama 32 tahun terakhir sejak tahun 1986, dimana cabor taekwondo mengikuti Asian Games. Sebelum perhelatan Asian Games 2018 ini, Indonesia baru mengumpulkan total 6 perak dan 8 perunggu. Terakhir kali Indonesia meraih medali pada Asian Games 2010 di Guangzhou, China. Ketika itu, Fransisca Valentina yang berhasil menyumbangkan medali perunggu. 

Hasil Asian Games 2018 kali ini juga membuktikan bahwa sesuai dengan prediksi banyak pihak, negara-negara kuat masih mendominasi akumulasi medali di cabor taekwondo. Praktis sebenarnya di Asian Games 2018 ini tidak ada yang menarik dari peta kekuatan taekwodo Asia, kecuali  Usbekistan yang mampu merangsek menjadi pesaing dalam konstelasi peta kekuatan taekwondo Asia. 

Korea selatan sebagai negara ibu kandung olahraga taekwondo, berhasil digdaya menjadi yang terkuat dengan Raihan 4 emas, 4 perak dan 1 perunggu. Disusul Iran 2 emas, 2 perak dan 1 perunggu. Lalu Cina dengan 1 emas, 1 perak 2 perunggu. Berikutnya diperingkat ke empat China Taipe dengan 1 emas 2 perunggu. Thailand di posisi ke lima dengan raihan 1 emas 2 perunggu. Jordania, 1 emas 1 perunggu. Adapun Indonesia sebagai tuan rumah berhasil berada diperingkat ke tujuh dengan raihan 1 medali emas, diikuti Usbekistan dengan 2 perak 2 perunggu. Lalu ada Kazakhstan di peringkat ke sembilan dengan raihan 1 perak 2 perunggu disusul Filipina dengan 3 perunggu. Sementara berturut-turut Jepang, Lebanon, Malaysia dan Vietnam harus puas dengan 1 medali perunggu.

Menarik mencermati perjalanan timnas taekwondo Indonesia menuju perhelatan Asian Games 2018. Sambil menelaah hasil yang telah dicapai, secara empiris wajar bahwa masyarakat taekwondo Indonesia begitu sangat memiliki ekspektasi tinggi terhadap timnas taekwondo Indonesia. 

Persiapan yang relatif panjang, keputusan Training Camp di Korea, bahkan secara khusus menjalin kerjasama dengan kementerian pemuda dan olahraga Korea, hingga menjalin kerjasama dengan timnas taekwondo Korea Selatan terkait program rekonstruksi kepelatihan dan pembinaan atlet taekwondo Indonesia. Belum lagi Tryout diberbagai kejuaraan internasional dan latih tanding dengan tim-tim elit dunia Korea. 

Hasilnya-pun dapat kita lihat, jelang perhelatan Asian Games, timnas taekwondo Indonesia yang mengikuti beberapa kali uji coba, menampakkan hasil yang memuaskan. Sebut saja kejuaraan Internasional tingkat dunia yang berlangsung medio Juli 2018 lalu, yakni World University Taekwondo Competition 2018.  Di ajang tersebut timnas taekwondo Indonesia mampu meraih 3 emas, 3 perak dan 4 perunggu. Emas waktu itu diraih oleh Mariska Halinda di dua kelas berbeda, yakni kelas U-57 Kg dan U-53 Kg, serta Dhean di kelas U-49 Kg. Perak diraih Ibrahim Zarman (U63 kg), Shaleha (U-67 Kg) dan Muhammad (U-68 Kg). Adapun medali perunggu diraih oleh Dinggo (U80 Kg), Rizki (87 Kg) Permata U62 Kg) dan Delva (73 Kg). Sementara Reinaldi dan Lukas belum berhasil meraih medali. 

Lalu jelang Asian Games, timnas masih mengikuti kejuaraan Internasional Taekwondo Jeju Korea Open 2018. Tim nasional taekwondo Indonesia di kejuaraan itu berhasil meraih 9 medali terdiri dari 2 emas, 4 perak, dan 3 perunggu. Medali emas pertama diraih lewat nomor new pair poomsae atas nama Defia Rosmaniar dan Abdurrahman Wahyu. Medali emas kedua melalui nomor new team female poomsae atas nama Mutiara Habiba, Rachmania Putri, dan Ruhil. Medali perak diraih melalui nomor pair recognized atas nama Defia Rosmaniar dan Abdurrahman Wahyu. Belum lagi sederet prestasi lainnya yang telah dicapai oleh timnas sepanjang keikutsertaannya mengikuti kejuaraan Internasional, termasuk menjuarai kejuaraan Asian di Ho Chi Minh, Vietnam Mei 2018 lalu, 

Beberapa catatan prestasi taekwondo Indonesia itulah yang membuat ekspektasi masyarakat Indonesia begitu besar terhadap kontribusi medali cabor taekwondo di Asian Games. Bahkan target 1 emas sepertinya tidak cukup. PBTI malah mematok target 2 emas, sementara publik berharap satu atau dua nomor lagi kita bisa berbicara maksimal di Asian Games.  Setidaknya lebih dari 2 emas sebenarnya masih layak untuk menasbihkan kekuatan taekwondo Indonesia saat ini di Asian Games 2018.

Training Camp jangka panjang, Tryout – try in dengan timnas Korea dan tim elit kelas dunia lainnya, serta beragam program pemusatan latihan nasional yang dikelola oleh manajemen pelatnas taekwondo Indonesia, termasuk berbagai fasilitas yang dimiliki dan anggaran yang amat besar, tentu menjadi catatan penting tentang makna sebuah korelasi antara persiapan dengan pertandingannya.  Bahwa apa yang menjadi segala bentuk proses panjang dari persiapan tersebut, seharusnya terlihat linier dalam pertandingan di Asian Games 2018. Dalam konteks ini, publik mungkin akan mafhum soal kalah dan menang. Tapi kita tidak bisa menegasikan alasan penilaian publik tentang penampilan atlet di pentas pertandingan yang berkorelasi dengan persiapan panjang pemusatan latihan. 

Di nomor poomsae misalnya, selain penampilan Defia yang nyaris sempurna, disisi lain kita juga menyaksikan penampilan timnas poomsae yang diluar dugaan soal penampilannya, khususnya di beregu putra dan putri. Penampilan tim beregu pura dan putri  terlihat terdistorsi oleh hanya masalah soal “balancing” dan “movement” yang tidak sempurna. Seperti diketahui, selain teknik, keseimbangan adalah hal mendasar dalam poomsae. Dan karena soal itulah implikasinya menyebabkan uniformity dalam performance tim akhirnya terganggu dan berdampak pada penilaian judge 

Memang amat disesalkan, penampilan tim poomsae terdeviasi nilainya karena faktor itu. Di beregu putri salah gerakan tersebut terlihat ketika menghadapi Filipina. Walaupun justifikasinya karena kaki salah seorang atlet sakit, jadi sulit untuk melompat. Sementara di beregu putra, terlihat jelas bagaimana salah seorang atlet putra poomsae Indonesia secara kasat mata, tidak mampu berdiri dan mempertahankan keseimbangannya dengan baik. 

Ada adagium bahwa dalam sebuah pertandingan soal menang dan kalah adalah biasa. Apalagi terkait dengan penilaian juri. Semua itu, kita bisa persepsikan sekaligus opinikan secara proporsional. Namun, harus dipahami juga bahwa pernyataan kata “menang dan kalah adalah biasa” merupakan statement normatif penenang hati. Ia ibarat obat penenang sakit kepala atau menjadi obat antibiotik peredam rasa sakit. Bahkan pernyataan “menang kalah adalah biasa” sejatinya merupakan justifikasi ampuh sebagai kata lain dari takdir, yang digunakan untuk meredam pertanyaan besar terkait pertangungjawaban kinerja yang menyebabkan terjadinya kekalahan. 

Base on balancing & movement adalah persoalan sangat mendasar dalam aplikasi poomsae. Dan publik juga mengetahui bahwa berdasarkan pengalaman dan prestasi yang selama ini diraih - penampilan atlet nasional kita sebenarnya dan seharusnya bisa jauh lebih sempurna dari yang ditampilkan mereka di Asian Games 2018 ini. Sayang memang, dan dalam konteks ini, poomsae adalah “keberuntungan dalam penampilan”. Bisa beruntung atlet tampil bagus dan sempurna namun bisa tidak beruntung atlet tampil kurang bagus dan kurang sempurna.

Sementara itu, di kategori kyorugi timnas taekwondo Indonesia sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Dari beberapa atlet yang turun, hanya Mariska dan Dinggo yang bersaing sengit. Lainnya praktis tak berdaya. 

Jika kita tengok jauh kebelakang sebelum digelarnya perhelatan Asian Games ini, memang sejak awal tim taekwondo Indonesia keberatan soal kategori nomor olimpiade yang digunakan sebagai standard kelas dalam Asian Games 2018. Namun PBTI sebagai induk cabang olahraga taekwondo tidak berdaya karena perhelatan Asian Games ini juga melibatkan pertarungan besar antara eksistensi IOC dengan OCA.

Kembali soal nomor kelas di Asian Games 2018, selain kontroversi nomor olimpiade (bukan nomor Asian Games) Indonesia juga sempat dirugikan dengan dikuranginya nomor kelas, yang tadinya 18 kelas menjadi 12 kelas. Padahal sebelumnya telah diputuskan bahwa cabor taekwondo mempertandingkan sebanyak 18 nomor. Namun General Executive Board ke-70 dan OCA General Assemby ke-36 di Ashgabat, Turkmenistan, 18-20 September 2017 lalu,  yang dihadiri INASGOC - malah memutuskan cabor taekwondo menjadi 12 nomor, dengan rincian delapan nomor kyorugi dan empat poomsae. Akibat keputusan tersebut, PBTI sempat mengancam untuk mundur dari Asian Games 2018. Pasalnya rapat tersebut justru tidak dihadiri perwakilan cabor taekwondo yang paham betul tentang kajian dan analisa nomor atau kelas. Malah yang hadir dan tidak memberitahukan kepada pihak PBTI adalah INASGOC yang sama sekali tidak mengerti teknis tentang olahraga ini. Melalui pendekatan yang terus-menerus, oleh PBTI kepada INASGOC, akhirnya  jumlah nomor kelas yang dipertandingkan bisa menjadi 14 kelas. 

Singkatnya di Asian Games 2018 akhirnya nomor olimpiade-lah yang menjadi dasar penetapan kelas di kategori kyorugi - bukan nomor Asian Games. Hal ini tentu berdampak bukan saja pada atlet Indonesia. Namun pada hampir semua atlet yang sebelumnya diperkirakan turun di Asian Games. Sebab implikasi dari keputusan tersebut adalah atlet harus turun di nomor yang tidak biasa. Misalnya, kelas 54 kg menjadi 58 kg. itu artinya atlet harus naik 4 Kg. Jika negara-negara kuat lainnya seperti Korea dan Iran memiliki banyak stok atlet berkualitas dan mampu mengganti atletnya, tidak dengan Indonesia. Pilihannya atlet harus naik berat badan. Dan tentu ada konsekwensinya. Bukan saja konsekwensi dalam konteks fisik dan psikologis atlet, namun juga konsekwensi dalam rekonstruksi metode kepelatihan. di tim Kyorugi Indonesia, hanya Mariska dan Ibrahim Zarman saja yang sejak awal sudah berada dalam kelas olimpiade, sementara atlet kyorugi lainnya praktis naik berat badan. 

Kita sebenarnya bisa melihat fakta perubahan penampilan atlet kyorugi yang progressnya cenderung makin menurun di beberapa kejuaraan internasional terakhir yang diikuti, namun sepertinya tidak ada pilihan lain, dengan komposisi yang ada, PBTI menganggap formasi inilah masih yang terbaik yang dimiliki timnas taekwondo Indonesia.

Tampil di Asian Games 2018, hampir seluruh atlet kyorugi Indonesia terlihat tampil tegang, seperti tidak siap menghadapi event besar. Bahkan terlihat dengan kasat mata, ketika naik ke pangung matras, gestur atlet terlihat tidak optimis. Memang ada satu atlet yang terlihat tampil enjoy menikmati pertandingan.  Banyak kalangan menyatakan bahwa hampir seluruh atlet bermain di bawah penampilan terbaiknya. Padahal sejatinya atlet kyorugi kita bisa jauh lebih baik dari penampilan mereka di Asian Games, jika melihat penampilan mereka di event-event Internasional sebelumnya.

Kondisi atlet dilapangan tersebut tentu menjadi pertanyaan, padahal secara teknis mereka memiliki kemampuan rata-rata sama dengan atlet-atlet negara lainnya.  Pertanyaan inilah yang harus dijawab dalam tendensi kerangka pemikiran yang lebih detail, konsepsional dan teknis, kritis namun tetap konstruktif. 

Dari sekian banyak catatan penting terkait penampilan atlet kyorugi Indonesia, ada salah satu aspek penting yang menjadi dasar telaah.  Salah satu faktor tersebut adalah faktor Protector Scoring System (PSS) KPNP. Menurut narasumber yang diwancarai redaksi, PSS menjadi alasan point minim selalu diterima atlet Indonesia. Ada analisis menyatakan bahwa teknologi KPNP yang sekarang ini menggunakan system yang lebih baru. Proximity sensor lebih sensitif. Sementara atlet kita berlatih masih menggunakan system lama yang tidak sesensitif PSS saat pertandingan di Asian Games. Misalnya, ketka atlet berlatih, beberapa teknik tendangan yang dilakukan tidak menghasilkan point. Akan tetapi ketika pertandingan, dengan teknik yang sama  justru menghasilkan point. 

Penggunaan sistem yang baru yang lebih integrated dengan proximity sensor yang lebih sensitif barangkali adalah fakta, namun bukankah semua negara peserta kemungkinan juga merasakan yang sama. Jikapun negara lain sudah lebih dulu mengenal dan mencobanya, mengapa timnas taekwondo Indonesia baru mengetahuinya ? apalagi baru mengetahui saat pertandingan di Asian Games kemarin ?. Dan jika sama-sama (seluruh) atlet baru mengetahuinya, mengapa atlet mereka bisa keluar dari problem proximity sensor tersebut dan kreatif melakukan serangan ? Sementara atlet kita sebaliknya, justru terlihat makin tidak berkembang penampiannya. 

Selain faktor teknis tersebut diatas, faktor subyektif juga nampak sekali terlihat pada diri atlet kita. Penonton memang tidak mengetahui apa yang ada dalam benak hati dan mental atlet. Yang dilihat penonton dari layar besar (videotron) di lapangan adalah wajah atlet yang terlihat “tidak optimis, tatapan kosong seperti tidak fokus, dan ekspresi kurang percaya diri. Beda dengan atlet Korea, Iran dan Usbekistan yang tampil dengan ekspresi tajam penuh harapan dan yakin akan kemenangan. Fighting spirit-nya sangat tidak terlihat dan makin terlihat tak berdaya ketika terjadi gap point yang semakin jauh.

Asian Games 2018 sudah berlalu. Kita beryukur dengan pencapaian sekeping emas yang ditorehkan Defia Rosmaniar. Emas tersebut adalah catatan emas sepanjang sejarah PBTI sebagai induk cabang olahraga dan masyarakat taekwondo Indonesia. Kita juga harus mengapresiasi kinerja dan jerih payah para atlet yang telah berusama maksimal membela bangsa dan negara. Tanpa eksistensi dan prestasi mereka (para atlet) selama ini, mungkin juga taekwondo Indonesia tidak segeliat seperti ini atmosfirnya dan barangkali tidak menjadi salah satu negara yang disegani pula di dunia. Biar bagaimanapun para atlet juga telah memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara, utamanya bagi masyarakat taekwondo Indonesia. Mungkin di Asian Games, (selain Defia) mereka kurang beruntung, namun kita juga tidak bisa menafikan bahwa pretasi mereka lainnya selain di Asian Games, juga telah ikut serta mengharumkan nama bangsa dan negara di kancah Internasional. Melalui catatan ini, kami mengajak seluruh stakeholders menyadari akan potensi dan kekuatan atlet kita, namun juga menyadari pula banyak pekerjaan rumah untuk kita perbaiki secara konstruktif terkait prestasi taekwondo Indonesia kedepan.

Pekerjaan rumah untuk para atlet taekwondo Indonesia belum selesai. Harus ada evaluasi komprehensif dan solutif untuk perbaikan pembinaan dan prestasi taekwondo Indonesia. Dan semoga Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) mampu melakukan rekonstruksi baru mengenai manajemen, metode dan strategi pembinaan dan prestasi dari hasil analisa dan evaluasi para atlet yang berlaga di Asian Games 2018 ini. Dan jika melakukan rekonstruksi, tentu akan ada implikasi dan konsekwensi. Maka berani mengambil resiko atas implikasi dan konsekwensi logis keputusan sebagai hasil dari telaah dan analisis serta evaluasi,  tentu menjadi sebuah keniscayaan mengenai quo vadis prestasi taekwondo Indonesia kedepan.

Andi Trinanda (Diolah dari berbagai sumber)