Catatan Taekwondo di Olimpiade Rio 2016

Nov, 10 2016
Opini

Kota Rio de Janeiro, Brazil telah sukses menyelenggarakan Olimpiade ke 31 tahun 2016. Pesta olahraga terbesar sedunia itu digelar sejak tanggal 5-21 Agustus 2016. Even akbar tersebut diikuti oleh lebih dari 11.000 atlet dari 207 komite olimpiade nasional termasuk beberapa negara yang baru pertama bergabung (Kosovo, Sudan selatan dan peserta tanpa negara). Dalam perhelatan itu, Amerika serikat akhirnya menjadi negara pengumpul medali terbanyak dengan 121 medali (46 emas 37 perak 38 perunggu) Britania Raya berada diposisi kedua dengan 67 medali (27 emas 23 perak 17 perunggu), dan China ditempat ketiga dengan 70 medali (26 emas 18 perak 26 perunggu), sedangkan Indonesia berada dirangking 46 klasemen (1 emas dan 2 perak). 

Taekwondo merupakan salah satu dari 6 cabang olahraga kombat (adapun 5 cabor lainnya : Panahan, Tinju, Anggar, Judo, dan Gulat) yang popular dan cukup beruntung karena masih dipertandingkan dalam Olimpiade kali ini. Pertandingan Taekwondo dilaksanakan pada tanggal 17-20 Agustus 2016, terdiri dari 128 atlet yang terbagi dalam 8 kelas kyorugi (belum mempertandingkan nomor poomsae).  Beberapa hal yang menarik adalah pemerataan medali dibanyak negara yang memang Taekwondonya cukup maju. Kondisi ini merupakan gambaran yang positif dimana perkembangan pengetahuan peraturan pertandingan dan keterampilan kyorugi cukup merata di semua Negara (5 benua).

Korea selatan sebagai Negara asal Taekwondo masih mendominasi persaingan medali dengan 5 medali (2 emas - 3 perunggu), lalu diikuti dengan China 2 medali (2 emas), Great Britain + Irlandia utara 3 medali (1 emas – 1 perak – 1 perunggu).   Untuk persaingan dikawasan Asia, selain Korea selatan dan China masih ada 4 negara kuat lainnya, yaitu : Azerbaijan (1 emas - 2 perunggu), Jordan (1 emas), Thailand (1 perak – 1 perunggu), dan Iran (1 perunggu). Kemudian ada 5 negara asia yang belum berhasil meraih medali : Mongolia, Uzbekistan, Kazaksthan, Kamboja dan Nepal.

Yang menarik adalah mengamati perkembangan prestasi Taekwondo dibenua hitam Afrika yang terbilang cukup pesat dimana Pantai gading (CIV) berada dirangking 5 klasemen dengan 1 emas 1 perunggu, lalu Nigeria (NIG) rangking 8 dengan 1 perak, Mesir (EGY) dan Tunisia (TUN) rangking 9 dengan 1 perunggu. Sedangkan wakil-wakil afrika yang gagal dibabak awal adalah Libya (LBY), Maroko (MOR), Mali (MLI), Madagaskar (MDA), Gabon (GBN) dan Congo (COD), Tonga (TGA), Tanjung Verde (CVP).

Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah  tidak satupun wakil dari zona benua hijau berada dalam klasemen medali.  Dalam olimpiade kali ini Australia (AUS) meloloskan 3 orang taekwondoin : Shafwan  Khalil - Men under 58, Hayder Shkara - Men under 80, dan Carmen Marton - Women under 67. Kemudian Selandia baru (NZL) diwakili oleh Andrea Kilday – Women under 49. Papua Nugini (PNG) juga meloloskan 2 taekwondoin Kassman bersaudara, Maxemillion Kassman – Men under 68, dan Samantha Kassman – Women over  67, Tonga (TGA)  Pita Nikolas Taufatofua – Men over 80, namun kesemuanya belum beruntung gagal meraih medali.

Taekwondo Indonesia yang memiliki populasi sangat banyak masih belum berhasil meloloskan wakilnya ke ajang olahraga tertinggi dan bergengsi tersebut. Namun jangan berkecil hati karena hingga 2020 masih ada beberapa multi even bergengsi, yaitu Sea games 2017, 2019, Asian Games Jakarta 2018 dan Olimpiade Tokyo 2020. 4 tahun terasa sangat sebentar, apalagi usia produktif atlet kyorugi taekwondo Indonesia berkisar rata-rata (puteri 16-24), putera 18-26).

Inilah tantangan yang harus dijawab oleh pengurus, baik ditingkat pusat hingga daerah. Disamping problem mendasar pendeknya masa produktif atlet Indonesia, taekwondoin Indonesia juga menghadapi problem elementer, yakni masalah fisik, terutama postur dan problem klasik, yakni masalah mentalitas dan minimnya visi dan strategi bertanding atlet. Khusus persoalan mentalitas ini memang terkait dengan ritme dan pengalaman bertanding para atlet di event internasional.

Oleh karenanya, kedepan, kualitas kejuaraan internasional juga menjadi catatan penting untuk menjadi bagian dari seleksi pengurus untuk menentukan kejuaraan internasional apa yang selayaknya diikuti oleh timnas Indonesia dalam rangka untuk mengkontruksi kualitas bertandingnya.

Empat tahun adalah waktu yang amat pendek, Namun masih bisa kita lakukan banyak hal untuk melakukan perbaikan secara bersama-sama. Komitmen pengurus dan sikap optimis seluruh stakeholders taekwondo Indonesia menjadi prasyarat bahwa taekwondo Indonesia bisa maju, berkembang dan kompetitif di event Internasional.

Salah satu aspek yang harus dibenahi itu terutama pada aspek talent scouting atlet pootensial dengan genetic speed yang baik. System seleksi yang akurat, pelatih berkualitas dan berpengalaman serta sistem pembinaan dengan system desentralisasi dan sentralisasi sesuai dengan pola pyramid pembinaan yang baik adalah satu dari sekian banyak jalan menuju perubahan itu.

Secara komparatif, kita bisa membandingkan perkembangan pesat negara-negara tetangga ASEAN. Kita bisa mengidentifikasi dan menganalisis sambil mengukur diri, apakah program pembinaan taekwondo Indonesia memiliki progress yang baik atau justru malah stagnan.  Catatan komparatif itu misalnya bisa kita ambil contoh, untuk menuju Sea games 2017 di Kuala lumpur. Coba amati grafik perkembangan Taekwondoin muda negara : Thailand, Philipina, Camboja, Vietnam, Malaysia, Myanmar dan Singapore.  Berdasarkan hasil olimpiade : Thailand berhasil meloloskan 3 atlet Taekwondonya, yaitu : Tawin Hanprab (Men under 58) Panipak Wongpattanakit (Women under 49), Phannapa Hamsujin (Women under 57).  Kemudian Philipina meloloskan hanya 1 atlet saja, yaitu Kirstie Elaine Alora (Women over 67). Dan Cambodia juga berhasil meloloskan 1 atlet atas nama Seavmey Som (Women over 67).

Gambaran tersebut diatas, tentu menjadi ikhtiar kita bersama, bahwa pekerjaan rumah Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) dan para pengurus di daerah sangatlah tidak ringan.  Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, dengan atmosfir dan perkembangan jumlah para taekwondoin yang begitu besar dan tersebar di hampir seluruh pelosok, serta kejuaraan diberbagai level daerah maupun nasional yang sangat sering, namun hingga hari ini, kita sangat kesulitan (khususnya mencari atlet taekwondo kyorugi) untuk mendapatkan atlet yang bisa bersaing di level dunia.

Kerja keras dan perencanaan matang pelatih dan atlet selama 4 tahun di evaluasi hasilnya berupa penampilan yang spektakuler. Sukses adalah tidak hanya meraih medali, dalam teori kepelatihan sukses adalah hasil sesuai dengan perencanaan, artinya penampilan atlet meningkat (jauh lebih baik dari sebelumnya). *) Fahmi Fachrezzy