Catatan Empiris Kejurnas Taekwondo 2017

Nov, 28 2017
Opini

Kejuaraan Nasional Ambassador Korea Cup 2017 telah berakhir 26/11 lalu. Hasilnya sudah sama-sama diketahui, Jawa Barat kembali menjadi punggawa tak terkalahkan sebagai juara umum dikurun waktu sejak 2011.

Kejurnas senior 2017 yang diselenggarakan akhir tahun ini memang momentumnya sangat tepat bagi Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI). Tepat karena  cukup waktu bagi PBTI untuk menelaah dan mengevaluasi berbagai program yang telah dilaksanakan ke berbagai daerah. Minimal selama kurun waktu 3 tahun terakhir ini. Baik program kepelatihan maupun program perwasitan dan berbagai program lainnya terkait upaya pengembangan kualitas sumber daya atlet, wasit, pelatih maupun pengurus di daerah. 

Setidaknya PBTI bisa bernafas lega, bahwa jerih payah turun ke berbagai daerah secara intensif melalui program pendampingan teknis berupa Pendidikan dan kepelatihan yang rutin digelar diberbagai daerah, membuahkan hasil di kejurnas 2017 ini. Selain adanya pemerataan, juga terlihat adanya progress bangkitnya daerah-daerah yang sebelumnya terpuruk  prestasinya. Momentum inilah yang mesti dijaga, bahkan diharapkan terus di tingkatkan intensitas dan kualitas programnya. 

Kejurnas 2017 adalah hanya salah satu dari sekian banyak tolok ukur dari pencapaian program-program PBTI tersebut.  Momentum Kejurnas 2017 juga amat tepat untuk mengevaluasi kembali peta dan komposisi atlet nasional taekwondo Indonesia. Tentu orientasi jangka pendeknya saat ini adalah Asian Games 2018 yang tinggal di depan mata.  

Selain itu, Kejurnas 2017 ini juga menjadi sarana sejauhmana PBTI melihat distribusi pemerataan prestasi di berbagai daerah ditengah problem elementer masalah taekwondo yang dialami dan dirasakan di daerah, khususnya daerah-daerah yang tidak memiliki infrastruktur untuk menunjang potensi sumber daya manusia. 

Problem elementer tersebut adalah ketiadaan fasilitas dan peralatan latihan/ pertandingan yang memadai dan minimnya kejuaraan didaerah tersebut. Catatan penting itu terlihat memang faktanya masih banyak daerah yang mengalami problem tersebut.

Propinsi di wilayah tengah dan timur, misalnya Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, NTT, NTB, Maluku dan Papua, sehingga beberapa daerah ketika menghadapi kejuaraan dengan level nasional seperti kejurnas, dengan kewajiban penggunaan PSS, amat terlihat ketidaksiapannya. Imbas dari problem elementer tersebut menyebabkan 3 propinsi absen di kejurnas 2017 ini karena alasan ketidaksiapan tadi. Termasuk ketidaksiapan dukungan dari KONI daerah dalam mengikuti perhelatan “wajib” yang menjadi agenda induk cabang olahraga itu.

Walaupun demikian, hasil kejurnas 2017 boleh dikatakan berhasil menciptakan atmosfir persaingan baru taekwondo Indonesia. Selain banyak tampil muka-muka baru, terlihat daerah-daerah yang sebelumnya tidak menonjol, di Kejurnas 2017 terlihat bersinar. Masuknya provinsi yang sebelumnya tidak diperhitungkan di partai semi-final, menunjukkan setidaknya pengurus provinsi mulai berbenah serius dengan berbagai cara untuk meningkatkan prestasi taekwondo di daerahnya. Kalimatan Utara, Jawa Timur, NTB, Sulawesi Tengah, Sumatra Utara dan Jambi adalah contoh Daerah yang bangkit dari keterpurukan.

Propinsi Jambi misalnya, setelah 23 tahun absen mendapatkan medali di kejuaraan apapun, di kejurnas ini Jambi meraih 1 emas, 3 perunggu dan bertengger di urutan ke 7 dengan meraih 1 emas 3 perunggu.  Emas disumbang oleh Farel Patra S di kategori Kyorugi di kelas -54 kg putri. 

Pencapaian prestasi tersebut menurut  pelatih Jambi Jimmy Martin, dikarenakan pengprov TI Jambi mulai berbenah diri dengan mengikutsertakan atlet, pelatih wasit dan pengurus untuk mengikuti program yang dibuat PBTI. Bahkan mengutus pelatih hingga ke luar negeri untuk belajar mengenai metodologi kepelatihan. Pelatih dan pengurus juga intensif melakukan komunikasi dan terus berkonsultasi dengan bidang-bidang terkait di PBTI mengenai program-program pembinaan  dan pengembangan prestasi yang dibuat di propinsi Jambi. 

Senada dengan Jambi, NTT juga merasakan hal yang sama. Dikejurnas 2017 ini, NTT membawa 13 atlet dan berhasil meraih 1 perak atas nama Pasti Putri Mamun di kelas -53 kg putri.

Manajer NTT, Micky Natun mengatakan bahwa dirinya puas melihat pencapaian NTT. secara keseluruhan 13 atlet NTT yang tampil bisa bersaing dengan daerah-daerah lain. Hal tersebut  menurutnya karena tidak terlepas dari komitmen NTT yang mewajibkan semua program PBTI diikuti, khususnya program kepelatihan untuk pelatih maupun perwasitan.

Micky Natun juga tidak menampik bahwa pengprov TI NTT masih jauh tertinggal dengan Pengprov TI lain.  Contoh paling mendasar adalah tidak adanya anggaran yang cukup untuk membeli PSS. Karena menurutnya, untuk membeli satu paket PSS saja membutuhkan anggaran sekitar Rp. 200 juta yang digunakan hanya untuk dua atlet kyorugi. 

Disamping itu, perlengkapan PSS juga digunakan dalam relatif singkat, perlu upgrade dan penyesuaian yang terus menerus. Misalnya, kaus kaki (e-socks) ternyata perlengakapan yang dibeli 6 bulan lalu sudah tidak bisa dipakai di kejurnas, karena sudah tidak lagi support dengan teknologi yang sekarang. Khusus di kejurnas 2017 ini NTT akhirnya membeli perlengkapan tersebut yang harganya berkisar antara 1 - 2 juta sepasangnya. Ketiadaan sarana dan prasarana tersebut membuat pengprov TI NTT selama ini membuat strategi banyak mengirim atlet bertanding diluar NTT, menimba pengalaman dan membiasakan diri menggunakan PSS. Cara tersebut berhasil dan kemungkinan akan dipertahankan terus walaupun nantinya NTT memiliki PSS.

Tambal sulam dan saling pinjam juga berlaku bagi Pengprov TI yang tidak memiliki PSS. Jawa Barat menjadi salah satu pengprov yang sering di pinjam peralatannya oleh daerah lain. Beberapa pengprov juga meminjam peralatan justru dari Pengkot atau Pengkab yang memiliki PSS.  Misalnya pengprov TI Sumatra Barat yang meminjam peralatan PSS dari pengkot TI Kota Padang. Peralatan tersebut menjadi inventaris Dinas Pemuda dan Olahraga serta pemerintah kota Padang.

Dikejurnas 2017 ini Sumatra Barat berhasil meraih dua emas dari kategori kyorugi yang disumbang oleh Delva Rizki di kelas over 73 Kg putri dan Marstio Embrian Hidayatullah di kelas -58 kg putra.

Nasib kurang beruntung dialami DKI Jakarta. Memiliki berbagai fasilitas lengkap, dukungan penuh dari Pengprov dan KONI DKI Jakarta, kontingen tuan rumah ibu kota negara ini hanya finish di urutan 10 besar dengan raihan 4 perak dan 7 medali perunggu. 

Hasil tersebut tentu menjadi catatan evaluasi bagi jajaran pelatih dan pengurus TI DKI, mengingat sebenarnya  DKI sendiri telah menyiapkan atletnya secara maksimal dan tidak asal comot.  Bahkan team pelatda DKI yang ada sekarang sebenarnya adalah team yang sudah mengikuti proses seleksi di ajang kejurprov dan mereka memang juara di kelasnya.  

Salah satu sebab yang dapat diidentifikasi terkait dengan belum beruntungnya atlet meraih emas, padahal 4 orang atlet berada di final, adalah sebagian dari mereka adalah atlet junior yang baru saja beralih ke senior. Namun DKI optimis, dengan formasi atlet yang ada sekarang, kedepan mereka akan dapat lebih bisa kompetitif bersaing. kejurnas 2017 ini, hampir rata-rata atlet DKI kalah dengan point tipis. Bahkan andalan DKI Ananda Lubay hanya kalah di dua detik terakhir di ronde akhir partai final, setelah sebelumnya di ronde pertama hingga ketiga selalu dalam leading point.

Namun demikian, Kejurnas 2017 kali ini juga tidak luput dari kritik yang disampaikan oleh beberapa praktisi taekwondo. Lontaran krtitik kebanyakan seputar mengenai kesiapan daerah mengikuti kejurnas yang terkesan apa adanya.  Harapan PBTI adalah kejurnas merupakan episentrum tertinggi dari proses pembinaan prestasi di masing-masing daerah. Namun faktanya masih ada beberapa daerah yang tidak mendasari hal tersebut. Tidak adanya Pelatda, seleksi instan dan minimnya dukungan KONI daerah menjadi salah satu sebab kemungkinan tidak maksimalnya atlet bertanding di kejurnas 2017 ini. Beberapa point inilah yang harus menjadi catatan penting bagi PBTI dan seluruh pengprov taekwondo di seluruh Indonesia. Apalagi seperti diketahui, kejurnas kali ini dijadikan ajang promosi dan degradasi atlet pelatnas untuk mengikuti Asian Games tahun depan.

Salah satu hal yang menarik adalah kejurnas 2017 ini juga dianggap sebagai kejurnas yang paling sportif. Salah satu sportifitas daerah terletak pada hasil yang dicapai oleh propinsi Jawa Barat. Kebanyakan dari mereka mengakui bahwa Jawa Barat menjadi contoh bagaimana pembinaan atlet daerah di siapkan secara terstruktur dan terprogram dengan baik. Catatan positif bagi mereka adalah keberhasilan Jawa Barat dalam hal pembinaan, akan di transformasikan di daerah mereka. Dengan kata lain, Kejurnas juga menjadi ajang diskusi dan komunikasi untuk saling berbagi pengalaman dan pengetahuan antar pengurus daerah.

Seperti diketahui, pencapaian Jawa Barat hingga mendominasi berbagai kejuaraan tingkat nasional dan menjadi daerah penyumbang atlet nasional terbanyak telah dimulai sejak 2011. Ditahun itu, Jawa Barat memulai pembenahan secara sistematis, diawali dengan merekrut pelatih asal Korea Selatan Lee Wooly Nara. Mereka lantas menerapkan system perekrutan dan pelatihan atlet junior dan senior yang murni berdasarkan kemampuan mereka. Salah satu metode penjaringan atlet tersebut melalui berbagai kejuaraan. Regenerasi atlet dilakukan sejak 3 tahun sebelum kejuaraan. Perekrutan dan pelatihan taekwondoin peserta Pekan Olahraga Nasional 2016, misalnya, telah dimulai sejak 2013. Selain itu, pelatihan juga diatur dengan jadwal yang ketat, ditambah dengan try out diwaktu yang tepat dan latih tanding yang selektif serta training camp yang tepat dan efektif 

Di kejurnas 2017, Jawa Barat menjadi juara umum dengan raihan 8 emas. 3 perak dan 2 perunggu, disusul Jawa Timur dengan 3 emas, 2 perak dan 2 perunggu. Peringkat ketiga diraih Jawa Tengah dengan raihan 2 emas, 5 perak dan 4 perunggu diikuti Bali dan Sumatra Barat di peringkat 4 dengan raihan sama, yakni 2 emas. 

Kejurnas 2017 juga menetapkan atlet terbaik putra dan putri. Atlet terbaik di raih oleh Marstio Embran Hidayatullah asal Sumatra Barat dan atlet terbaik putri asal Jawa Tengah. Sementara Hendra Wijaya, wasit asal Kalimantan Utara di nobatkan sebagai wasit terbaik.

*) Andi Trinanda,  Foto : Andru Panggabean